Migrasi Lagi

blog ini sudah dimigrasikan ke alamat baru
http://anbhar.net

Anbhar's Blog

↑ Grab this Headline Animator

Saturday, August 18, 2007

Ganti Layout

Bingung mau ngapain. apalagi malas posting..

iseng² ganti layout blog. Awalnya mau edit profile di friendster pake overlay generator. tp karna error trus, tiba² muncul ide ganti layout blog. apalagi dah lama gak ganti kulit.. hmmm cuman headernya aja diganti sama ganti warna.
Jadilah layout blogku versi AC Milan. Apalagi sy juga Milanisti cess :D

Forza Milan...!!!

Hmmm... tapi klo diperhatikan, layoutnya bernuansa merah putih juga walaupun ada hitamnya. Ya.. itung² masih suasana 17 Agustusan. Merdekaaaa...!!!!

Hmmm... kalo dibuka pake Opera atau Firefox, tampilannya sudah bagus, tapi klo pake IE, headernya gak pas, hurufnya kegedean, hasilnya gak maksimal. So, pake Opera atau Firefox nah kalo buka blogku...!!!

:D

Kopdar

Sebenarnya belakangan ini banyak hal yang menarik yang ingin sy posting, tp karna sy dasarnya suka menunda², akhirnya yang mau ditulis menumpuk. Akhirnya gak ada yang jadi.

Bulan lalu sy mulai sering ikutan kopdar dan di acara yang diadakan Komunitas Blogger Makassar (angingmammiri), juga mulai aktif di forumnya, tapi sayang masih malas mereplay di milisnya. hihihihi.

Ada juga acara² kopdar yang diadakan komunitas #warnet99 dan juga #orangedan. Kopdar ini biasanya udah direncanakan. Seperti rekreasi ke Bantimurung, Ultah Farah dan Grace di kost-an Farah, dan Ultah YaFeT di KemahNet. Terakhir kopdar hari kamis sore dalam rangka Ultah frusteck (Hail) di coto daeng jam 4 sore, dilanjut ke NAV jam 11 malam tp dibatalkan, jadi dialihkan ke Naskun Maccini. Sehabis makan, tiba² anak malah punya ide lanjutin ke Sucer minum Sarabba. Gila... dalam 1 hari 3 kali acara makan². Sore di Coto Daeng, malam di Naskun Maccini sama Sucer.

Bulan ini juga anak² #warnet99 dan #orangedan hampir tiap malam mengadakan kopdar dadakan. Kopdar dadakan ini biasanya gak direncanakan, dan dimulai dari obrolan gak jelas di room #warnet99 sampe ada yang ditunjuk² jadi bandar (yg mentraktir). Tapi paling sering saweran. Yang penting ngumpul...!!!

Waktu lagi posting ini, teman di #orangedan sebenarnya lagi makan naskun bareng² di Maccini, sy baru tau waktu mereka udah pulang karna tadi sy sempat DC di IRC jadi gak liat mereka berangkat. hikzz.. lewat lagi 1 kopdar. Tapi gak apa², tadi sudah ditraktir di Pizza Hut sama Anta di MARI. :D

Hmmm.. tapi kok lapar lagi :D

Friday, June 29, 2007

8 Tahun sudah

29 Juni 1999, Selasa dini hari, KM Sirimau milik Pelni yang saya tumpangi bersama keluarga merapat di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Yah... tepat 8 tahun yang lalu sy bersama keluarga mulai menginjakkan kaki di pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Selatan, dan lebih khusus lagi di Kota Ujung Pandang (sekarang udah jadi Makassar yah).

bersambung...

Sunday, June 10, 2007

Drive - Bersama Bintang

Baru aja duduk di depan komputer, dan jam udah nunjukin angka 00.28 tiba² HP teman (ADI) berbunyi. Hm... ucapan selamat Ulang Tahun...

Yah hari ini 10 Juni 2007 ulang tahunnya yang ke 20. SMS itu sendiri berasal dari seorang gadis yang akhir² ini dekat denganku. Tidak lama kemudian ADI menelponnya. Dan dia minta di downloadkan lagu Drive yang judulnya Bersama Bintang. Lagu yang jadi Soundtrack Sinetron Candy. Gak sampe 5 menit lagunya dah dapat di IRC. Tapi nyari liriknya gak ketemu.

Setelah jadi single list di winamp, nulis liriknya sambil tekan pause & play di winamp, trus langsung posting diblog :D Ternyata lagunya asik juga. Aransemen dan suara vokalisnya juga bagus (lebih dari sekedar lumayan). Sambil posting, dengar lagunya yang jadi single list di winamp, and download lagu yang lainnya di Album yang sama. Albumnya sendiri berjudul "Esok Lebih Baik" dan diproduseri oleh Gitaris Band Favoritku, PIYU.

Nih liriknya

Drive - Bersama Bintang

Senja kini berganti malam
Menutup hari yang lelah
Di manakah engkau berada
Aku tak tahu di mana

Pernah kita lalui semua
Jerit tangis Canda Tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya

Reff:

Tidurlah selamat malam
Lupakan saja aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Sesungguhnya aku tak bisa
Jalani waktu tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka

Lupakan diriku
Lupakan Aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Monday, May 28, 2007

Pemusiran – Nipah Panjang, Kampung Halamanku

Desa Pemusiran terletak di pinggiran sungai dan berada di muara sungai Pemusiran. Sebagian besar penduduknya (± 95%, kayaknya lebih deh :D) adalah orang bugis. Seingat sy, di desa Pemusiran yang dulu (sekarang kan dah digabung dengan desa Teluk Kijing Luar), penduduk non bugis ± 10 KK (sebagian besar guru). Dan bahasa sehari² yang digunakan adalah bahasa bugis bahkan oleh orang non bugis pun menggunakan bahasa ini sebagai bahasa sehari² (udah kayak bahasa nasionalnya).

Desa Pemusiran ini dibagi menjadi beberapa wilayah yang ditandai dengan parit (sungai kecil/anak sungai) dan diberi nama sesuai parit tersebut. Dan di daerah yang berawalan parit inilah sawah² penduduk Pemusiran (yang mayoritas memang petani) berada.

Parit 3
Pusat desa Pemusiran adalah sekitar muara parit 3 yang berada tidak jauh dari pelabuhan (bong). Parit ini pula yang memisahkan antara RT 2 dan 3 yang ditandai dengan jembatan. Sementara pelabuhan (bong) memisahkan antara RT 1 dan RT 2. Di sekitar jembatan ini pula banyak terparkir pompong (perahu bermesin/ketinting) milik nelayan. Yah, selain bertani, masyarakat ada juga yang merangkap sebagai nelayan dan pedagang. Parit 3 hanya ramai di bagian muara karna memang aktifitas dan tempat tinggal masyarakat lebih banyak di pinggiran sungai. Sementara parit ini hanya berfungsi sebagai jalur transportasi untuk menuju ke persawahan atau kebun yang jauh dari sungai. Semakin jauh masuk parit semakin sepi.

Oh, yahh… jalanan di Desa Pemusiran sebagian besar adalah terbuat dari papan yang memanjang dari selatan ke utara di pinggiran sungai mulai dari RT 03 sampai dengan jembatan yang ada di ujung desa dekat muara sungai Pemusiran. Papan ini konon udah berumur belasan mungkin 20 an tahun. Sewaktu sy meninggalkan desa Pemusiran tahun 1999, papan² tersebut masih bagus dan kuat. Hanya sebagian yang rusak di RT 02. Kemungkinan sekarang udah diganti akibat kebakaran pertengahan 2005 lalu, terutama yang berada di RT 01 dan 02 yang hampir habis terbakar. Sementara di RT 03 sebagian besar masih bagus dan tidak menjadi korban kebakaran karna berada di seberang parit.

Selain jalanan dari papan, ada juga jalanan dari tanah, khususnya yang ada di belakang, sejajar dengan jalanan papan. Namun jalanan di belakang sepi karna kurangnya perumahan di bagian belakang. Jalan lain ada jalan darat yang sejajar dengan parit 3. Jalanan ini sebenarnya terusan dari pelabuhan (bong) yang mengarah ke barat. Jika menyusuri jalan ini ke arah barat, akan ditemukan mesjid Raya Nurul Huda, mesjid kebanggan Desa Pemusiran yang ada di bagian belakang. Juga ada bekas gedung MTs Swasta Nurul Huda yang berada tepat di samping belakang Mesjid yang sekarang menjadi Kantor Desa. Bekas gedung MTs? Yah… karena MTs tersebut tidak operasional lagi sejak hadirnya SLTP Negeri di desa itu.

Jauh menyusuri jalanan tanah yang apabila hujan menjadi becek itu, kita akan menemukan SD Negeri 27/v Pemusiran. Di sinilah untuk pertamakalinya saya merasakan bangku sekolah. Di sini gak ada playgroup maupun TK. :D. Di depan SD itu, dibalik pagar ada sungai kecil tepatnya anak parit, tempat mandiku ketika pulang sekolah dalam keadaan kotor. Jika melanjutkan kembali perjanan ke barat menyusuri jalanan tersebut, hampir tidak ada lagi rumah yang ditemukan. Yang ada hanya pohon kelapa, jambu, mangga dan sawah di kiri dan kanan jalanan. Kadang terkesan serem jika melewati pohon besar. Menurut kabar dari keluarga yang masih tinggal di sana, jalanan ini sebagian besar sudah rusak dan hampir tidak bisa dilewati lagi dengan sepeda apalagi honda (di sini semua motor disebut honda, gak peduli mereknya suzuki atau yamaha, atau honda). Padahal jalanan inilah yang menghubungkan desa Pemusiran dengan desa lainnya yang ada di barat.

Parit 4
Parit 4 berada di bagian selatan desa Pemusiran. Ditandai dengan banyaknya pabrik penggilingan Padi yang kesemuanya berada di pinggiran sungai Pemusiran dan 2 di antaranya berada tepat di muara parit 4. Pabrik ini oleh masyarakat sekitar lebih sering disebut gudang, mungkin karna juga dijadikan tempat menyimpan beras. Letak gudang² yang berada di pinggir sungai memudahkan untuk bongkar muat beras yang dibawa oleh petani dari sawah setelah sebelumnya menyusuri parit dan sungai Pemusiran dengan menggunakan perahu atau pompong.

Jalanan di daerah parit 4 ini adalah sebagian tanah dan sebagian papan di pinggiran sungai serta jalanan tanah di belakang. Karna berada di luar pusat desa, penduduknya pun sedikit. Sebagian besar penduduknya adalah petani, ada juga yang merangkap sebagai Nelayan, salah satunya sahabat karibku yang bernama Basriadi (sy biasa memanggnya ADI).

Di sekitar pinggiran parit 4 inilah sy melanjutkan pendidikan SMP saya, tepatnya SLTP Negeri 3 Nipah Panjang yang berada di belakang. Gedung yang sederhana dengan lantai dan dinding dari papan, sama seperti gedung sekolah ku waktu SD yang juga berada di parit 3. Gedung sekolah yang dikelilingi oleh sawah dan kebun. Saat yang paling asyik waktu sekolah di SMP ini adalah ketika tiba waktu gotong royong. Setiap minggu terutama hari Jum`at, siswa membawa parang panjang (kayak samurai) ke sekolah untuk memotong rumput dan semak². Bila capek, tinggal manjat pohon kelapa yang banyak berada di pinggir jalan dan meminum airnya. Tapi jika belum puas, sy biasa minta kelapa muda sama ADI yang memang memiliki kebun kelapa di belakang rumahnya, terutama jika sudah pulang sekolah. Kadang 3 buah kelapa muda saya habiskan sendiri.

Sama seperti parit 3, parit 4 juga digunakan sebagai jalur transportasi selain jalur darat untuk menuju ke sawah.

Parit 5
Parit yang dulunya ramai ini dikenal sebagai sarang buaya. Bahkan kata Ibu, salah satu saudara sy menjadi korban buaya di sungai sekitar parit tersebut ketika sy belum lahir dan wilayah Parit 5 masih ramai, tidak seperti sekarang ini.

“Waktu itu salah satu hari besar agama Islam (entah Maulid Nabi atau Isra Miraj). Sepulang dari pusat desa (parit 3), sambil mandi bersama teman²nya, naik perahu dan berenang mengejar balon di sungai, tiba²……...!!!
Kata guru ngajiku yang dulu sempat melihat kejadian, korban sempat diangkat sama buaya di permukaan sungai (seperti sengaja diperlihatkan) sebelum buaya itu menyelam dan tidak muncul lagi.
Sampai saat ini, warga masih meyakini klo daerah parit 5 merupakan sarang buaya dan mereka pun meyakini klo di muara parit 5 tersebut terdapat lubang/sarang buaya. Mungkin karna banyak buayanya, sekarang penduduk parit 5 semakin berkurang. Rumah² penduduk di sini berada di pinggir sungai sehingga masih bisa disaksikan jika melintas di atas sungai Pemusiran. Ketika masih tinggal di Pemusiran, sy kadang ngeri juga kalo melintas di atas muara parit 5, soalnya airnya selalu keruh dan muncul gelombang² seperti ada gerakan di bawah air.

Walaupun gak punya kebun dan sawah, parit 5 adalah tempat yang sering saya datangi karna di sini kebun dan sawah paman berada. Letaknya jauh dari muara parit, jadi rasanya aman dan gak perlu takut buaya jika berada di parit dekat kebunnya. Di parit 5 ini pula sy bersama sepupu sering memancing kepiting di parit dengan umpan ikan asin (ikan kering) yang diikat dengan tali nylon (tali rafia) dan sebuah tangguk.

Sama seperti parit yang lainnya, parit 5 juga digunakan untuk jalur transportasi. Sementara jalur transportasi darat berada di pinggiran parit 5 susah dilewati dengan sepeda. Jika ingin ke parit 5 menggunakan sepeda ke sebaiknya melalui parit 4. Nah dari parit 4 ini menyeberangi jembatan, tapi bukan jembatan yang dekat muara parit 4, tapi jembatan yang jauh dari muara, tepatnya setelah menyusuri pinggir parit 4 (timur ke barat) sampai menemukan jembatan (hanya ada 2 jembatan). Setelah menyeberangi jembatan, tinggal menyusuri jalanan yang menbujur dari utara ke selatan hingga mendapatkan jembatan yang melintas di atas parit 5. Begitu juga selanjutnya jika ingin ke parit 6 dan 7 tinggal menyusuri jalanan tersebut yang melintang dan menghubungkan parit 4, 5, 6 dan 7.

Parit 6 dan 7
Di parit ini penduduknya bisa dihitung dengan jari. Dan mereka tinggal jauh dari pinggiran sungai Pemusiran, sehingga tidak terlihat rumah di pinggiran sungai. Perumahan dijumpai di pinggiran parit sekitar jalan darat yang menghubungkan parit 4, 5, 6 dan 7. Parit 6 ini juga berujung di Sungai Pemusiran tepatnya di Desa Sungai Raya, sehingga kadang digunakan sebagai jalur cepat untuk menuju Desa Sungai Raya yang juga berada di pinggiran sungai Pemusiran. Sementara di Parit 7 terdapat sebuah Sekolah Dasar, entah sekarang gimana nasibnya.

Mungkin hanya sampai parit 7 yang masih wilayah Desa Pemusiran (yang saya ketahui ;)).

Yang pasti, sejak tahun 1999 tidak pernah lagi sy rasakan suasana seperti di sana. Tidak ada lagi mandi di sungai di sore hari, menikmati angin sore di pinggir sungai, memancing ikan dan udang, atau naik perahu menyusuri sungai di sore hari.