Migrasi Lagi

blog ini sudah dimigrasikan ke alamat baru
http://anbhar.net

Anbhar's Blog

↑ Grab this Headline Animator

Monday, May 28, 2007

Pemusiran – Nipah Panjang, Kampung Halamanku

Desa Pemusiran terletak di pinggiran sungai dan berada di muara sungai Pemusiran. Sebagian besar penduduknya (± 95%, kayaknya lebih deh :D) adalah orang bugis. Seingat sy, di desa Pemusiran yang dulu (sekarang kan dah digabung dengan desa Teluk Kijing Luar), penduduk non bugis ± 10 KK (sebagian besar guru). Dan bahasa sehari² yang digunakan adalah bahasa bugis bahkan oleh orang non bugis pun menggunakan bahasa ini sebagai bahasa sehari² (udah kayak bahasa nasionalnya).

Desa Pemusiran ini dibagi menjadi beberapa wilayah yang ditandai dengan parit (sungai kecil/anak sungai) dan diberi nama sesuai parit tersebut. Dan di daerah yang berawalan parit inilah sawah² penduduk Pemusiran (yang mayoritas memang petani) berada.

Parit 3
Pusat desa Pemusiran adalah sekitar muara parit 3 yang berada tidak jauh dari pelabuhan (bong). Parit ini pula yang memisahkan antara RT 2 dan 3 yang ditandai dengan jembatan. Sementara pelabuhan (bong) memisahkan antara RT 1 dan RT 2. Di sekitar jembatan ini pula banyak terparkir pompong (perahu bermesin/ketinting) milik nelayan. Yah, selain bertani, masyarakat ada juga yang merangkap sebagai nelayan dan pedagang. Parit 3 hanya ramai di bagian muara karna memang aktifitas dan tempat tinggal masyarakat lebih banyak di pinggiran sungai. Sementara parit ini hanya berfungsi sebagai jalur transportasi untuk menuju ke persawahan atau kebun yang jauh dari sungai. Semakin jauh masuk parit semakin sepi.

Oh, yahh… jalanan di Desa Pemusiran sebagian besar adalah terbuat dari papan yang memanjang dari selatan ke utara di pinggiran sungai mulai dari RT 03 sampai dengan jembatan yang ada di ujung desa dekat muara sungai Pemusiran. Papan ini konon udah berumur belasan mungkin 20 an tahun. Sewaktu sy meninggalkan desa Pemusiran tahun 1999, papan² tersebut masih bagus dan kuat. Hanya sebagian yang rusak di RT 02. Kemungkinan sekarang udah diganti akibat kebakaran pertengahan 2005 lalu, terutama yang berada di RT 01 dan 02 yang hampir habis terbakar. Sementara di RT 03 sebagian besar masih bagus dan tidak menjadi korban kebakaran karna berada di seberang parit.

Selain jalanan dari papan, ada juga jalanan dari tanah, khususnya yang ada di belakang, sejajar dengan jalanan papan. Namun jalanan di belakang sepi karna kurangnya perumahan di bagian belakang. Jalan lain ada jalan darat yang sejajar dengan parit 3. Jalanan ini sebenarnya terusan dari pelabuhan (bong) yang mengarah ke barat. Jika menyusuri jalan ini ke arah barat, akan ditemukan mesjid Raya Nurul Huda, mesjid kebanggan Desa Pemusiran yang ada di bagian belakang. Juga ada bekas gedung MTs Swasta Nurul Huda yang berada tepat di samping belakang Mesjid yang sekarang menjadi Kantor Desa. Bekas gedung MTs? Yah… karena MTs tersebut tidak operasional lagi sejak hadirnya SLTP Negeri di desa itu.

Jauh menyusuri jalanan tanah yang apabila hujan menjadi becek itu, kita akan menemukan SD Negeri 27/v Pemusiran. Di sinilah untuk pertamakalinya saya merasakan bangku sekolah. Di sini gak ada playgroup maupun TK. :D. Di depan SD itu, dibalik pagar ada sungai kecil tepatnya anak parit, tempat mandiku ketika pulang sekolah dalam keadaan kotor. Jika melanjutkan kembali perjanan ke barat menyusuri jalanan tersebut, hampir tidak ada lagi rumah yang ditemukan. Yang ada hanya pohon kelapa, jambu, mangga dan sawah di kiri dan kanan jalanan. Kadang terkesan serem jika melewati pohon besar. Menurut kabar dari keluarga yang masih tinggal di sana, jalanan ini sebagian besar sudah rusak dan hampir tidak bisa dilewati lagi dengan sepeda apalagi honda (di sini semua motor disebut honda, gak peduli mereknya suzuki atau yamaha, atau honda). Padahal jalanan inilah yang menghubungkan desa Pemusiran dengan desa lainnya yang ada di barat.

Parit 4
Parit 4 berada di bagian selatan desa Pemusiran. Ditandai dengan banyaknya pabrik penggilingan Padi yang kesemuanya berada di pinggiran sungai Pemusiran dan 2 di antaranya berada tepat di muara parit 4. Pabrik ini oleh masyarakat sekitar lebih sering disebut gudang, mungkin karna juga dijadikan tempat menyimpan beras. Letak gudang² yang berada di pinggir sungai memudahkan untuk bongkar muat beras yang dibawa oleh petani dari sawah setelah sebelumnya menyusuri parit dan sungai Pemusiran dengan menggunakan perahu atau pompong.

Jalanan di daerah parit 4 ini adalah sebagian tanah dan sebagian papan di pinggiran sungai serta jalanan tanah di belakang. Karna berada di luar pusat desa, penduduknya pun sedikit. Sebagian besar penduduknya adalah petani, ada juga yang merangkap sebagai Nelayan, salah satunya sahabat karibku yang bernama Basriadi (sy biasa memanggnya ADI).

Di sekitar pinggiran parit 4 inilah sy melanjutkan pendidikan SMP saya, tepatnya SLTP Negeri 3 Nipah Panjang yang berada di belakang. Gedung yang sederhana dengan lantai dan dinding dari papan, sama seperti gedung sekolah ku waktu SD yang juga berada di parit 3. Gedung sekolah yang dikelilingi oleh sawah dan kebun. Saat yang paling asyik waktu sekolah di SMP ini adalah ketika tiba waktu gotong royong. Setiap minggu terutama hari Jum`at, siswa membawa parang panjang (kayak samurai) ke sekolah untuk memotong rumput dan semak². Bila capek, tinggal manjat pohon kelapa yang banyak berada di pinggir jalan dan meminum airnya. Tapi jika belum puas, sy biasa minta kelapa muda sama ADI yang memang memiliki kebun kelapa di belakang rumahnya, terutama jika sudah pulang sekolah. Kadang 3 buah kelapa muda saya habiskan sendiri.

Sama seperti parit 3, parit 4 juga digunakan sebagai jalur transportasi selain jalur darat untuk menuju ke sawah.

Parit 5
Parit yang dulunya ramai ini dikenal sebagai sarang buaya. Bahkan kata Ibu, salah satu saudara sy menjadi korban buaya di sungai sekitar parit tersebut ketika sy belum lahir dan wilayah Parit 5 masih ramai, tidak seperti sekarang ini.

“Waktu itu salah satu hari besar agama Islam (entah Maulid Nabi atau Isra Miraj). Sepulang dari pusat desa (parit 3), sambil mandi bersama teman²nya, naik perahu dan berenang mengejar balon di sungai, tiba²……...!!!
Kata guru ngajiku yang dulu sempat melihat kejadian, korban sempat diangkat sama buaya di permukaan sungai (seperti sengaja diperlihatkan) sebelum buaya itu menyelam dan tidak muncul lagi.
Sampai saat ini, warga masih meyakini klo daerah parit 5 merupakan sarang buaya dan mereka pun meyakini klo di muara parit 5 tersebut terdapat lubang/sarang buaya. Mungkin karna banyak buayanya, sekarang penduduk parit 5 semakin berkurang. Rumah² penduduk di sini berada di pinggir sungai sehingga masih bisa disaksikan jika melintas di atas sungai Pemusiran. Ketika masih tinggal di Pemusiran, sy kadang ngeri juga kalo melintas di atas muara parit 5, soalnya airnya selalu keruh dan muncul gelombang² seperti ada gerakan di bawah air.

Walaupun gak punya kebun dan sawah, parit 5 adalah tempat yang sering saya datangi karna di sini kebun dan sawah paman berada. Letaknya jauh dari muara parit, jadi rasanya aman dan gak perlu takut buaya jika berada di parit dekat kebunnya. Di parit 5 ini pula sy bersama sepupu sering memancing kepiting di parit dengan umpan ikan asin (ikan kering) yang diikat dengan tali nylon (tali rafia) dan sebuah tangguk.

Sama seperti parit yang lainnya, parit 5 juga digunakan untuk jalur transportasi. Sementara jalur transportasi darat berada di pinggiran parit 5 susah dilewati dengan sepeda. Jika ingin ke parit 5 menggunakan sepeda ke sebaiknya melalui parit 4. Nah dari parit 4 ini menyeberangi jembatan, tapi bukan jembatan yang dekat muara parit 4, tapi jembatan yang jauh dari muara, tepatnya setelah menyusuri pinggir parit 4 (timur ke barat) sampai menemukan jembatan (hanya ada 2 jembatan). Setelah menyeberangi jembatan, tinggal menyusuri jalanan yang menbujur dari utara ke selatan hingga mendapatkan jembatan yang melintas di atas parit 5. Begitu juga selanjutnya jika ingin ke parit 6 dan 7 tinggal menyusuri jalanan tersebut yang melintang dan menghubungkan parit 4, 5, 6 dan 7.

Parit 6 dan 7
Di parit ini penduduknya bisa dihitung dengan jari. Dan mereka tinggal jauh dari pinggiran sungai Pemusiran, sehingga tidak terlihat rumah di pinggiran sungai. Perumahan dijumpai di pinggiran parit sekitar jalan darat yang menghubungkan parit 4, 5, 6 dan 7. Parit 6 ini juga berujung di Sungai Pemusiran tepatnya di Desa Sungai Raya, sehingga kadang digunakan sebagai jalur cepat untuk menuju Desa Sungai Raya yang juga berada di pinggiran sungai Pemusiran. Sementara di Parit 7 terdapat sebuah Sekolah Dasar, entah sekarang gimana nasibnya.

Mungkin hanya sampai parit 7 yang masih wilayah Desa Pemusiran (yang saya ketahui ;)).

Yang pasti, sejak tahun 1999 tidak pernah lagi sy rasakan suasana seperti di sana. Tidak ada lagi mandi di sungai di sore hari, menikmati angin sore di pinggir sungai, memancing ikan dan udang, atau naik perahu menyusuri sungai di sore hari.

Monday, April 09, 2007

Week End di Malino

Tidak ada mandi² di air terjun, tidak ada jalan² ke pohon pinus, apalagi ke kebun teh. Yah.... itulah perjalanan ke malino kali ini. Tidak ingin menyalahkan hujan yang turun sepanjang hari ini, tp karna memang kami ke sana di saat musim hujan belum berakhir.
Perjalanan ke Malino ini adalah untuk ke 3 kali bagi saya. Terakhir kali ke Malino tahun 2004 lalu. Bersama teman² dengan 3 sepeda motor, berangkat pagi dan pulang menjelang sore. Waktu itu kami berangkat tanpa perencanaan, pagi² ketika masih tertidur sy dijemput teman² dan diminta ikut. Dan ketika pulang sy mengalami kecelakaan, sy yang waktu itu dibonceng teman (Anta) jatuh bersama², begitu juga dengan motor. Alhamdulillah gak ada luka maupun lecet. Walaupun waktu terjatuh itu posisi sy paling bawah, kemudian tertimpa anta, dan motor. Gak ada luka, hanya pakaian yang agak kotor, dan motor sedikit lecet. Yahh seperti ada keajaiban.

Sementara pertama kali menginjakkan kaki di Malino yaitu akhir 2002 lalu menjelang bulan Ramadhan bersama kk dan tetangga. Waktu itu nginap di rumah penduduk di daerah yang lebih tinggi. Dinginnya bukan main. Seprai yang seharusnya untuk alas tidur berubah fungsi menjadi selimut.

Acara di Malino kali ini dalam rangka gathering chatters IRC@DALnet #warnet99 dan #makassar. Ini adalah gathering yang ke 3 yang sy ikuti. Beberapa gathering sebelumnya sy gak ikut berpatisipasi karena kesibukan. Di acara kali ini pun sy hampir gak ikut karna walaupun sudah tanggal muda, sy belum megang duit juga.

Tapi memang Allah Maha Pemurah. Rejeki bisa datang tiba², dan akhirnya sy bisa berangkat juga sekaligus bisa membawa motor ke bengkel untuk persiapan ke Malino.

Acaranya sendiri hari Sabtu-Minggu (7/8 April 2007), dan rencana start dari Makassar hari Sabtu sore dan pulang Minggu sore. Rombongan dibagi 2 kloter (kelompok terbang???). Kloter pertama yang rencananya berangkat jam 4 sore dari VirtualNet ternyata berangkat jam 8 malam (katanya lama nunggu makanan) dengan Kijang nya Dhandy. Sementara kloter kedua berangkat ± jam 12 malam dari OryzaNet. Nah sy bergabung dengan kloter ini dan kebanyakan pake sepeda motor + 2 Kijang. Juga ada beberapa rombongan kecil yang gak ikutan kloter yang berangkat kloter 2.

Awalnya sempat pesimis juga berangkat tengah malam, soalnya sabtu sore hujan mengguyur makassar dan sekitarnya. Ternyata hujan hanya sore itu sampai maghrib. Dan ketika berangkat langit cerah dengan cahaya bulan. Ada sekitar 9 motor di rombongan ini, tapi di tengah perjalanan ketika melewati sungguminasa, rombongan terbagi menjadi 3. Rombonga pertama 5 motor (termasuk sy), trus Innova + eko (motor) dan rombongan terakhir yang 3 motor.

Perjalanan dari Makassar sampe bendungan bili-bili memang masih mulus, walaupun ada beberapa jalanan yang rusak. Tapi selepas bendungan, beberapa ruas jalan yang rusak mulai banyak ditemui, ada yang berlubang, becek, dan bekas tanah longsor. Jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak terasa asik dilalui beramai². Dan tiba di Villa sebelum jam 2 dini hari. Di sana kloter pertama sudah menunggu dan sebagian sudah istirahat. Motor langsung parkir di bawah Villa yang berupa rumah panggung, kemudian membersihkan kaki yang penuh dengan lumpur dan menunggu anggota rombongan yang belum nyampe.

Setelah semua rombongan tiba, selanjutnya berkumpul di dalam Villa untuk makan. Nasi kuning yang merupakan makanan favoritku, kali ini tidak sy habiskan. Bukan karena tidak enak, tapi karna gigi graham sebelah kiri tiba² sakit. Setelah selesai makan, semua rombongan kembali berkumpul untuk menyampaikan rencana kegiatan besok pagi serta memperkenalkan diri. Dalam sesi perkenalan ini, banyak nama² baru yang tidak sy kenal beserta dengan nicknya. Mungkin karna beberapa minggu ini saya jarang OL di IRC. Ada juga kejadian lucu di sesi ini, seperti ulah IcHaL dan Dhandy yang tukaran nama.

Setelah acara perkenalan selesai, peserta bubar dan sy sendiri sama edil memilih istirahat. Walaupun hawa dingin tidak terlalu menyengat malam itu, tetap saja sy make 2 lapis baju + jaket untuk antisipasi dingin di subuh hari. Entah berapa jam sy tertidur, ketika terbangun di pagi hari dan tidak sholat subuh, ranjang yang hanya cukup 3 orang diisi 4 orang yang tidur dengan gaya pistol. Sy yang masih mengantuk milih bangun dan cuci muka.

Pagi² langit mulai mendung, ketika kami ngobrol di pos depan villa. Tidak lama kemudian hujan turun. Jam dinding menunjukkan jam 10 lewat tapi hujan belum reda, dan akhirnya agenda ke Air terjun dibatalkan. Menyusul kemudian rencana ke kebun teh, pohon pinus, dan pasar Malino untuk beli jajanan khas malino pun dibatalkan karena hingga siang hari hujan belum reda. Setelah sholat Dzuhur, sekitar jam 1 lewat sy berencana start duluan untuk pulang. Dan ternyata beberapa teman yang lain memang juga sudah ingin pulang. Akhirnya sebagian besar teman² pun memajukan jadwal pulangnya. Di tengah guyuran hujan deras, rombongan pun pulang semua.

Di perjalanan sempat singgah ketika melihat seseorang terbaring di pinggir jalan. Setelah singgah bertanya kepada orang di sekitar situ, ternyata orang yang terbaring tersebut orang mabuk yang kecelakaan, dan dibiarkan saja terbaring dan jadi tontonan di tengah guyuran hujan. Kami sengaja singgah, siapa tau yang kecelakaan tersebut adalah salah satu rombongan kami yang berada di barisan terdepan, ternyata kami yang berjumlah 3 motor yang terlalu cepat dan terpisah dari teman² yang masih berada di belakang. Tidak lama kemudian dalam perjalanan satu persatu anggota rombongan lainnya menyusul.

Juga sempat singgah di Bendungan Bili-Bili ± 10 menit dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulang setelah semua rombongan bergabung. Dari sini rombongan kembali mulai ngebut² dan terpisah, sementara hujan belum berhenti. Dan ketika memasuki Sunggu Minasa, sy hanya beriringan dengan Ippank (parakang) sampai memasuki Makassar dan terpisah ketika dia berbelok ke Emmy Saelan menuju OryzaNet sementara sy lurus di Alauddin menuju DigiNet dan disambut suara Adzan Ashar dari komputer OP yang terpasang program Shollu.

Walaupun ada beberapa rencana di Malino yang batal, setidaknya sy bisa bertemu muka dengan teman² chatters yang selama ini hanya ketemu di dunia maya. Dan juga kembali bertemu dengan rekan² senasib untuk berbagi cerita.

Mudah²an gathering² selanjutnya bisa berjalan lancar...Amien...

NB: foto² menyusul

Wednesday, March 28, 2007

Pemusiran – Nipah Panjang, Kampung Halamanku (Part II)

Nipah Panjang ke Pemusiran
Nipah Panjang dan Pemusiran berada di muara sungai yang langsung berhadapan dengan Laut Cina. Hanya saja, dari Nipah Panjang tidak bisa langsung melihat laut karena terhalang oleh gugusan pulau² kecil. Sementara dari Pemusiran kita bisa langsung melihat laut. Jarak dari Nipah Panjang ke Pemusiran sy tidak tau pasti. Tapi ada beberapa alat tranportasi yang menghubungkan kedua daerah yang merupakan Kecamatan dan desa tsb. Dan semuanya musti melewati sungai. Bisa naik sepeda atau sepeda motor tp musti menyeberang sungai yang cukup lebar. Sungai ini adanya di Desa Pemusiran. Lebarnya sekitar 50-60 meter (gak pernah diukur seh, cuman diperkirakan :d). Klo naik sepeda ±1 jam perjalanan. Itu dulu, waktu jalanannya masih jelek. Kabarnya sekarang jalanannya udah bagus.

Klo naik speedboat ± 30 menit. Trus klo naik kapal bermesin/pompong (di makassar sejenis ketinting) sekitar 1 jam. Nah klo naik speedboat atau pompong ada 2 jalur. Bisa lewat dalam yaitu melalui sungai kecil dan bisa juga lewat luar yaitu melalui laut.

Inilah jalur sungai dan laut yang menghubungkan Kecamatan Nipah Panjang dan Desa Pemusiran

Perjalanan Lewat Dalam
Perjalanan dari Nipah Panjang ke Pemusiran jika menggunakan jalur dalam, kita akan kembali ke arah selatan (arah ke Suak Kandis/Jambi) sampai di ujung selatan wilayah Nipah Panjang dan berbelok ke kanan di sungai kecil yang lebarnya 10-20m. Tidak jauh dari Muara sungai kecil tersebut (masih di wilayah Nipah Panjang), di sepanjang kiri dan kanan sungai akan dapat disaksikan pembuatan perahu, kapal kayu, mulai dari ukuran kecil hingga yang besar secara tradisional.

Jika memilih jalur ini, harus mempertimbangkan keadaan air. Jika keadaan air surut, air sungai akan dangkal dan pengguna jalur ini harus hati-hati jangan sampai kandas. Sungai kecil ini berujung di Sungai Pemusiran, dan untuk mencapai Pemusiran harus kembali menyusuri sungai Pemusiran ke arah utara di mana Desa Pemusiran berada. Menyusuri sungai Pemusiran dapat disaksikan di kiri-kanan rimbun pepohonan dan semak² serta pohon nipah di pinggir sungai yang sepertinya belum terjamah manusia. Kadang juga dijumpai kera yang melompat² di pohon PEDADA (pohon yang banyak di pinggiran sungai). Hampir tidak dijumpai rumah di pinggir sungai sampai berada di sekitar parit 5 (tentang Parit 5 dan parit yang lainnya di postingan berikutnya).

Setelah melihat ada rumah di pinggiran sungai, berarti desa Pemusiran sudah dekat, dan setelah melewati sungai yang agak meliuk di parit 4, dari kejauhan dapat dilihat rumah² penduduk di pinggir sungai. Jika dulunya masih banyak rumah² yang berada di atas sungai dan membelakangi sungai, sekarang sudah berkurang seiring dengan erosi/pengikisan oleh air sungai yang membuat sungai semakin melebar. Jadi sekarang sebagian besar rumah menghadap ke sungai (timur). Sambil menyusuri sungai, dapat disaksikan orang² yang berjalan di jalanan yang terbuat dari papan. Yaahhh. Sebagian besar jalanan di Desa Pemusiran terbuat dari papan yang bahkan sudah berumur belasan tahun.

Pelabuhan di Desa ini lebih dikenal dengan nama Bong, juga terbuat dari kayu. Entah sekarang setelah kebakaran pertengahan 2005 lalu.

Perjalanan Lewat Luar
Perjalanan lewat luar berarti perjalanan melewati pinggiran laut. Dari Nipah Panjang perjalanan dimulai dengan mengarahkan kendaraan ke arah utara. Wilayah Nipah Panjang utara ini (yang lebih dikenal Nipah Panjang I) dikenal sebagai daerah nelayan bugis, karna banyak orang Bugis yang berprofesi sebagai nelayan yang tinggal di daerah ini. Di ujung wilayah Nipah Panjang ini, terdapat kumpulan kelelawar yang dapat diliat bergelantungan dari pinggiran sungai. Kelelawar² ini terbang di sore hari untuk mencari makan ke penjuru desa, bahkan sampai melewati desa Pemusiran.

Selama perjalanan menyusuri pinggiran laut, di sebelah kiri hanya dapat diliat hutan, sementara di sebelah kanan sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Kabarnya pulau ini sudah dilirik investor dari luar negeri untuk dijadikan tempat pengolahan ikan segar.

Setelah benar² berada di laut, pulau di sebelah kanan sudah terlewati dan dari kejauhan dapat dilihat muara sungai Pemusiran dan rumah penduduk. Tapi dari sini pompong atau speedboat tidak boleh langsung potong kompas ke muara sungai Pemusiran. Kenapa? Karena ada hamparan pasir yang melintang di atas laut tersebut yang disebut gusung. Jika air laut pasang tinggi, pompong atau speedboat bahkan kapal motor bisa langsung lewat di atas gusung tersebut. Namun jika air laut tidak terlalu tinggi, sebaiknya mutar sampai ujung gusung tersebut, karna jika nekat melintas di atas gusung tersebut, bisa² kandas. Jika air laut surut, hamparan pasir ini dapat dilihat. Biasanya nelayan sudah hapal kapan bisa melintas di atas gusung dan kapan tidak, serta tau di mana tempat untuk berputar di ujung gusung tersebut.

Jalur yang dilalui ketika akan memasuki muara sungai Pemusiran dari Nipah Panjang

Setelah memasuki wilayah sungai Pemusiran, di tengah² muara sungai dapat disaksikan alat penangkap ikan yang dipasang nelayan yang dikenal dengan nama Togok (seperti yang ada di tengah² sungai Tallo). Di tempat ini dulu sy sering memancing dan sangat banyak ikan karna berada di dekat laut. Sebenarnya desa yang berada di muara sungai ini adalah Desa Teluk Kijing Luar. Namun kabar dari keluarga di Pemusiran mengatakan kalo Teluk Kijing Luar dan Pemusiran sudah dilebur menjadi Desa Pemusiran. Di sekitar muara sungai pula terdapat SPBU tepatnya di seberang desa (berada di sebelah kiri). Selanjutnya tinggal menyusuri sungai sampai ke pelabuhan (Bong) atau tergantung di mana anda ingin turun karna di sepanjang pinggiran sungai bisa menjadi pelabuhan.

Bagaimana dengan kendaraan darat? Walaupun pernah beberapa kali naik sepeda juga naik honda (klo di sini semua sepeda motor disebut Honda termasuk yang merek suzuki, yamaha, dll) bersama teman² sy masih kurang hapal jalurnya. Setidaknyada ada 3 jalur jika menggunakan sepeda atau motor. Dan dari Desa Pemusiran terlebih dahulu harus menyeberangi sungai.

Saturday, March 24, 2007

Pemusiran – Nipah Panjang, Kampung Halamanku (Part I)

Jam sudah menunjukkan setengah dua, sy masih duduk di depan komputer. klik sana, klik sini, scroll ke bawah dan ke atas dan mata tetap fokus ke monitor. Sesekali mengetikkan beberapa kata untuk sekedar menanggapi teman² yg masih chatting di IRC. Selanjutnya kembali memainkan mouse.

Lama-kelamaan rasa bosan muncul juga. Bosan browsing dan baca berita yang sama di tempat yang sama, baca berita gak diupdate, chatting dengan orang² yang sama, dan bosan dengar bencana yang silih berganti datang.

Tiba² teringat dengan kampung halamanku. Gimana keadaannya sekarang? pasti jauh berubah, apalagi pertengahan 2005 lalu hampir habis dilalap si jago merah.

Akhirnya jari² tangan ini kembali bergerak membuka halaman google dan mengetikkan kata kunci "Nipah Panjang". Nipah Panjang adalah nama kecamatan desa kelahiranku, sementara desa kelahiranku sendiri bernama Pemusiran. Ternyata kata Nipah Panjang ada banyak juga yah :D. Banyak juga berita kriminal, apalagi ada yang pernah menjulukinya sebagai sarang perompak.

Perjalanan ke Nipah Panjang
Nipah Panjang adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi yang terletak di pesisir timur pulau Sumatera. Dulunya berada di Kabupaten Tanjung Jabung (Tanjab) yang beribukota di Kuala Tungkal. Namun sejak tahun 1999, Tanjung Jabung dimekarkan menjadi Tanjung Jabung Barat (Ibukota tetap Kuala Tungkal) dan Tanjung Jabung Timur (Ibukota Muarak Sabak). Mungkin karena keduanya berada di pesisir pantai, angkutan yang umum digunakan adalah angkutan laut.

Letak Kecamatan Nipah Panjang dilihat pake SatelliteMapnya Google

Ada beberapa alternatif jalur untuk bisa sampai di Nipah Panjang. Bisa melalui Kuala Enok di Kab. Inhil Riau yang memang berbatasan dengan Prov. Jambi. Bisa juga melalui Ibukota Provinsi Jambi yaitu Kota Jambi. Kuala Enok adalah salah satu daerah di Riau yang disinggahi oleh Kapal Pelni. Bila dari Makassar, bisa langsung ke daerah ini menggunakan kapal Pelni. Dari Kuala Enok perjalanan ke Nipah Panjang menggunakan Kapal Motor kayu yang bernama Pada Idi (bugis banget, :D). Biasanya berangkat Kamis malam, menelusuri pesisir timur pulau Sumatera dan tiba subuh hari di Nipah Panjang.

Bila dari Kota Jambi, ada beberapa alternatif transportasi yang bisa digunakan untuk sampai ke Nipah Panjang. Jalur sungai dan darat. Kalo lewat darat kayaknya masih kurang yang menggunakannya soalnya agak jauh juga mutar. Jalur kedua menyusuri sungai Batanghari, sungai yang terpanjang di pulau Sumatera. Jalur sungai pun ada 2 alternatif.

Pertama, jalur lambat. Menggunakan kapal tongkang yang digandeng oleh Kapal bermesin. Jadi sebenarnya ada 2 kapal, keduanya kapal kayu. Kapal tongkang ukurannya lebih besar berfungsi sebagai tempat barang dan penumpang, sementara Kapal yang bermesin sebagai sumber tenaga untuk menggerakkan kapal. Jika Kapal bermesinnya berukuran besar (ada juga ukuran kecil dan sedang), sebagian penumpang mengambil tempat di sana. Kapal ini biasanya buang sauh/jangkar (parkir) di tengah² sungai Batanghari yang lebarnya ±300 m di sekitar Pasar Angso Duo. Untuk mencapai Kapal, kita musti nyewa perahu yang rata² ukurannya besar karna memang biasanya digunakan buat ngangkut barang. Kapal ini berangkatnya menjelang malam, dan biasanya nyampe di ponton (pelabuhan) Nipah Panjang di subuh hari.

Sy pernah mengalami musibah waktu pertama kali naik Kapal ginian.
Waktu itu pertengahan tahun 1992 (Juni-Juli) sepulang dari Palembang. Karna sudah sore baru nyampe di Jambi, sementara speedboat sudah gak ada yang menuju Nipah Panjang, terpaksa menggunakan Kapal. Waktu itu musim liburan jadi Kapal penuh dan kami sekeluarga hampir tidak dapat tempat. Beruntung ada penumpang yg sama² orang bugis, memberikan sebagian tempatnya.

Menjelang subuh hari, Kapal yang kami tumpangi bertabrakan dengan kapal pinishi di sekitar persimpangan yg terkenal keramat. Di sekitar persimpangan itu ada makam keramat Rangkayo Hitam, Raja Kerajaan Jambi. Akhirnya salah satu dari 2 kapal yang kami tumpangi tenggelam, yaitu kapal yang bermesin. Beruntung ada penumpang yang dengan cepat memutus tali yang menghubungkan Kapal tongkang dengan kapal yang bermesin, klo tidak, bisa² kapal tongkangnya juga ikutan tenggelam.

Waktu itu kami sekeluarga ada di kapal tongkang, jadi Alhamdulillah kami selamat. Karna kejadiannya tengah malam menjelang subuh, banyak yg tidak bisa menyelamatkan diri, terutama yang berada di kapal bermesin. Yang sy ingat, peristiwa itu menelan 27 korban jiwa. Sy sendiri waktu itu masih kecil dan sedang tertidur. Ibuku bahkan mengira sy ada apa² karna atap kapal di atas kami rubuh waktu penumpang berlompatan menyelamatkan diri. Dan ketika sy terbangun semuanya gelap karna listrik di kapal mati dan samar² sy bisa melihat barang² yang terapung² di sungai Batanghari di sekitar kapal tongkang. Kapal tongkang akhirnya menepi dengan sendirinya walaupun tanpa mesin (mungkin karna arus atau angin). Barang² seperti indomie yang diangkut kapal tongkang akhirnya jadi korban penjarahan penumpang yang lapar.

Ketika hari mulai terang, kami sekeluarga mungkin menjadi salah satu yang paling duluan meninggalkan TKP. Waktu itu kebetulan memang ada speedboat yang dibonceng di belakang kapal sejak dari Jambi. Dengan speedboat itulah kami melanjutkan perjalanan. Keluarga di Nipah Panjang dan Pemusiran yang tau klo kami ada di Kapal itu sempat khawatir juga. Dan alhamdulillah kami semua selamat, walaupun kening Ibu tergores kena runtuhan atap.
Kedua, jalur cepat. menggunakan mobil + speedboat. Mobil untuk mencapai pelabuhan speedboat yang berada di Suak Kandis dengan lama perjalanan ±1,5 jam dari kota Jambi. Nah perjalanan dengan speedboat akan dimulai dari Suak Kandis ini. Begitu juga sebaliknya, bila dari Nipah Panjang menuju kota Jambi, Suak Kandis merupakan tempat perpindahan moda transportasi sungai (speedboat) dan darat (mobil) :D. Di Suak Kandis juga speedboat untuk menuju ke kecamatan lain berkumpul.

Entah sejak kapan speedboat musti singgah di Suak Kandis. Padahal dulu waktu sy masih SD (seingat saya), perjalanan dari Nipah Panjang ke kota Jambi hanya ditempuh dengan speedboat. Dan biasanya speedboat akan singgah buat ngisi bahan bakar di SPBU dan warung terapung yang ada di tepian sungai Batanghari. Penumpang biasanya turun untuk sekedar melepaskan kekakuan pada persendian setelah duduk sekian lama atau buang air di wc umum terapung atau makan makanan yang disediakan di warung terapung tersebut.

Saran bagi yg baru pertama kali naik speedboat "jangan duduk di bagian depan, karna goncangannya lebih keras, terutama jika air sungai berombak".

Sy teringat cerita guru sejarah di SMP yang berasal dari Ujung Pandang (Makassar) waktu baru pertama kali ke Nipah Panjang dari Jambi. Waktu mau naik speedboat, dia langsung milih tempat duduk di bagian depan karna kebiasaan klo naik mobil duduk di depan bisa melihat² dengan bebas. Ternyata duduk di bagian depan sangat menyiksa karna speedboat selalu terguncang bila kena ombak.

Lama perjalanan speedboat dari Suak Kandis ke Nipah Panjang ±2 jam tergantung arus sungai. Jika air sungai pasang, speedboat akan melawan arus dan otomatis perjalanan akan lama. Begitu juga dgn sebaliknya.

Ketika memasuki wilayah Nipah Panjang dari arah selatan kita akan menyaksikan di tengah sungai yang lebarnya ±1 Km ada gundukan daratan yang di atasnya berdiri SPBU dan pabrik² pengolahan es balok. Dan kita bisa menyaksikan kendaraan sungai yang lalu lalang, mulai dari perahu, pompong (ketinting), kapal troll, sampai speedboat. Bisa juga disaksikan deretan kapal² kayu yang parkir di sepanjang pinggiran sungai.

Suatu pemandangan yang tidak pernah lagi sy saksikan sejak meninggalkannya 8 tahun silam.

(bersambung)

Wednesday, March 07, 2007

Sibuk, Capek dan Sakit

Ingat lima perkara sebelum lima perkara
sehat sebelum sakit
muda sebelum tua
kaya sebelum miskin
lapang sebelum sempit
hidup sebelum mati

Raihan - Demi Masa
Setelah sibuk beberapa minggu terakhir, akhirnya badan ini KO juga. Apalagi istirahat dan makan yang gak teratur, ditambah gak pernah olahraga lagi, badan ini memang rasanya tinggal menunggu untuk jatuh sakit.

Dan akhirnya sejak minggu malam (04/03/07), sepulang dari Maros (Kariango) mindahin barang yang tersisa dari Emy Saelan, badan ini hanya bisa terbaring di depan TV dan sesekali turun untuk sekedar bantu² teman di wnet. Sebenarnya sejak minggu siang, tanda² mau sakit udah ada, tapi tetap sy paksakan buat beraktifitas.

Minggu yang Melelahkan
Minggu pagi sudah membersihkan rerumputan di depan warnet, kemudian membakarnya. Selanjutnya menjelang siang harus ke BTP dan kembali ke Minasa Upa dan Emy Saelan buat ngambil barang dan dibawa ke Maros. Dalam perjalanan pun sempat dikejar petugas DLLAJR Maros di dekat perbatasan Makassar Maros. Gara² disuruh singgah tapi jalan terus. Untungnya teman yang sy suruh bawa mobil ini orang Kodam, ditambah kk yang memang anggota kostrad juga ngikutin naik motor dari belakang.

Mungkin karna udah lama gak naik mobil (sejak punya motor) akhirnya dalam perjalanan pulang, sempat ngeluarin makanan dari mulut (muntah). Sewaktu singgah makan di Mie Titi BTP berempat bersama teman², hanya sy yang gak bisa ngabisin makanan. Mungkin hanya 2 sendok yang sy makan dan sisa makanan sy tinggalkan begitu saja, padahal perporsinya lumayan mahal (hikzz mubazir).

Sesampai di warnet, kepala mulai pusing, dan sewaktu sholat maghrib malah menggigil. Dalam keadaan gak enak badan, masih sempat nginstall 2 komputer dengan Linux Mandriva. Yang terakhir, nginstallnya malah sambil baringan. Sepanjang malam gak bisa tertidur karna kaki gemetaran dan seperti gak ada tenaga. Setelah makan indomie dan minum susu, baringan sambil nonton, lama kelamaan rasa sakit di kaki udah mulai hilang, tapi rasa sakit malah muncul di perut. Beberapa kali bolak-balik WC.

Beginilah klo sudah capek, langsung baringaan di depan komputer
Setelah 3 hari tidak bisa beraktifitas seperti biasa, alhamdulillah sakit hilang dan pekerjaan sudah menunggu.